Suatu siang yang cerah, sambil menyelesaikan pekerjaan untuk program KKN di kantor Pemerintah Kota Yogyakarta, saya dan teman-teman mendiskusikan tentang sebuah kata yang sangat jauh dari bayangan kami: menikah.
Jujur saja, saya bukan orang yang ingin cepat-cepat menikah kendati saya rajin mengompori teman-teman saya untuk menikah. Bukan apa-apa, saya punya gaun kesayangan yang sangat jarang saya pakai. Makanya, saya mencari event yang pantas agar saya bisa memakai gaun tersebut ;D Menikah… ya, menikah. Entah kenapa saya tidak terlalu ingin menikah. Punya keluarga itu menyenangkan, memang. Tapi dalam otak saya tak pernah sedikitpun terlintas untuk menikah. Saya tidak pernah berpikir bahwa menikah merupakan sebuah hal berat yang menuntut tanggung jawab besar. Tapi saya pikir saya masih belum pantas untuk menikah. Oleh karenanya kemudian saya berikrar dengan Chika, sahabat saya, untuk tidak menikah sebelum kami berdua bisa bekerja dan mengumpulkan uang untuk berlibur berdua sambil berfoya-foya ke Lombok. Cita-cita yang naïf mungkin, tapi saya serius. Dan lagi, saya punya segudang cita-cita lain yang sepertinya agak sulit dilakukan bila saya sudah bersuami seperti bertualang backpacking ke Pulau Seribu, membuat fashion show event, dan menyewa sebuah apartemen bersama sahabat saya. Terbayang kan betapa saya masih sangat selfish? Belum lagi kebiasaan-kebiasaan yang belum bisa saya hentikan begitu saja seperti nongkrong dan minum kopi bersama teman-teman (kalau yang ini lebih karena kebanyakan teman saya laki-laki…), keluar dan menyetir di malam-malam buta hanya untuk curhat dengan sahabat, atau malah hanya duduk di pinggiran alun-alun sepanjang malam sambil menghabiskan jagung bakar dan teh hangat sambil pula ngorol kanan kiri dengan teman-teman.
Pfuh, saya mulai berpikir bahwa yang bermasalah adalah diri saya sendiri. Makanya saya belum mau menikah karena sepertinya laki-laki yang akan jadi suami saya akan pusing bukan cuma tujuh keliling.
Ah, tapi alasan-alasan yang saya paparkan tadi merupakan sesuatu yang obyektif. Subyektifnya, tujuan menikah yang saya katakan pada teman-teman KKN adalah untuk mengakhiri petualangan. Entah benar atau tidak, saat mendapat pertanyaan tentang apa tujuan saya menikah, yang terlintas begitu saja di kepala saya adalah kalimat tersebut. Salah seorang kawan bernama Hafid pernah mengucapkan satu kalimat yang sempat membuat saya sedikit termangu, “Rata-rata cerita tentang petualangan berakhir waktu petualang itu capek lho…”
Hmm, saya mulai berpikir, kapan saya akan lelah? Atau jangan-jangan saya tidak akan pernah lelah?
0 komentar:
Poskan Komentar